Jumat, 01 Agustus 2014

Lebaran seharusnya memberikan kebahagiaan hari yang Fitri. 
Tapi tamparan keras apa yang kau timpakan pada keluarga kecil yang kubangun dengan lelah dan jerih payah ini.
Bermula malam itu. Aku cuma ingin ini terjadi dengan baik dan tidak emosional. buat apa juga dipertahankan ketidaksepahaman yang telah berlarut larut selama 6 tahun. Gak kan ada titik terangnya. 
Tapi gak sesuai yang kuharapkan....!!!!
Anakku : kau adalah segalanya bagiku, aku tau kau lebih dulu merasakan apa yang akan terjadi.
Aku sedikit heran ketika pagi itu kepalamu kau rebahkan dipangkuanku yang sibuk didepan komputer.
Kau sudah tau kau akan berpisah dengan salah satu orang tuamu, gak akan tidur bertiga lagi, gak akan mengalami : diceritain ibumu dengan elusan pelan tanganku di pantatmu agar kau tertidur.
Anakku
Begitu terasa hatimu yang bersih meluap pilu dengan teriakan dan rontaanmu, menolak meninggalkan bapakmu yang lemah melihat kau menangis.
Anakku
Aku gelap mata dan kesabaran selama 6 tahun ahirnya tumpah melihat kau dipaksa ikut dalam keegoisan ibumu.
Airnya kata-kata perpisahan itu ahirnya keluar dan membuatmu aneh
kau begitu pintar dan karena kepintaranmu itu kau cuma bengong memandang bapak.
tersirat di matamu yang bening bnyak makna yang kau ucapkan terbata-bata,
"bapak mau pergi kemana"
"Iki ikut dan diam sama bapak"
dan sesekali melihat penjual semangka minum dan berkata " kasian dia bapak kehausan"
tatapanku ahirnya tertuju ke celana, kaki dan sandalmu.
Kotor penuh debu.
Aku menangis melihat anakku yang tidak terurus. Anak sebayanya mandi 3 kali sehari oleh ibunya. tapi kau mungkin cm mandi sekali/ sehari. ataupun cuma dcuciin muka sama ibumu.
Apakah sekarang kau tau? ibu mengurusmu sj tdk becus, gmn  mau mengurus suami dan keluargamu?
Anakku: Fahamilah keadaan ini, aku akan perjuangkan apa yang kau inginkan. 
kutanya lagi " iki kalau gede mau jadi apa? diapun menjawab seperti biasa, iki mau jadi polisi.. amiiin
Anakku di eksploitasi... 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar