Maafkan bapak nak..
Aku bukan bapak yg baik.
Sekarang kau sudah menolak untuk ku gendong.
Aku gak tau besok-besok kau tidak mengenali bapakmu yg sebenarnya.
Siapa yang salah...?
tapi yang jelas aku gak ingin seperti itu..
Aku tau kebingungan dimatamu..
Aku tau dua pilihan di hatimu..
Matamu yang lugu nampak bingung dan menunjukkan hatimu kacau
Seperti kacaunya hatiku saat ini..
Bapak salah, tidak bisa mempertahankan keutuhan kita bertiga. tapi..
Terlalu banyak egoisme di sekelilingmu.
Tapi ini adalah keputusan yang tepat untuk bapak. betapa perih melihatmu seperti ini, tambah lagi sikap dan tingkah laku ibumu.
Aku sedih setiap bertemu denganmu, bapak ingin menangis, tapi bapak harus kuat demi senyuman kecilmu.
Aku gak ingin menangis didepanmu, aku gak ingin terlihat menderita.
Aku tambah lagi hancur dengan kondisimu yg tidak terawat, dengan ingus yg meleleh dan mengering.
Dimana tanggung jawab ibumu, apakah dia bisa menjadi ibu yang baik untukmu? sedangkan merawat kebersihanu saja tidak bisa.. Wanita egois.. bapak cuma minta jatah merawatmu biarpun dalam sebulan cuma satu minggu. Tapi keadilan itu tidak ada pada ibumu. Terlalu egois, mau menang sendiri. Bertubi tubi ibumu menghinaku tapi aku selalu sabar wlaupun itu sangat menyiksaku. Dengan sumpah serapahnya yang begitu kasar. Aku malah takut kau akan tumbuh menjadi manusia seperti ibumu.
Tapi dalam sholat, sujud dan tangisanku di 1/3 malam aku selalu berdoa untukmu. setidaknya kau bisa tumbuh besar menjadi anak yang berbakti pada ibumu. walaupun kau tidak bersamaku. Apapun yang akan terjadi kau adalah anakku. tapi maafkan kata-kata bapak yang satu ini....
Kenapa kau terlahir dari rahim dia Nak...?
Saat besar nanti kau akan membaca semua keluhan hati bapak ini...
Saat aku mendapatkan ibu baru untukmu yang baik, sholeh dan berbakti..
Saat bapak menemukan wanita terbaik yang bisa merawat saudara2mu nanti.
Saat bapak menemukan wanita yang bisa bersikap adil padamu.
Saat bapak menemukan wanita yang sederhana dan menerima bapakmu karena Allah.
Insya Allah nak.... i love u..
Sabtu, 30 Agustus 2014
Jumat, 01 Agustus 2014
Lebaran seharusnya memberikan kebahagiaan hari yang Fitri.
Tapi tamparan keras apa yang kau timpakan pada keluarga kecil yang kubangun dengan lelah dan jerih payah ini.
Bermula malam itu. Aku cuma ingin ini terjadi dengan baik dan tidak emosional. buat apa juga dipertahankan ketidaksepahaman yang telah berlarut larut selama 6 tahun. Gak kan ada titik terangnya.
Tapi gak sesuai yang kuharapkan....!!!!
Anakku : kau adalah segalanya bagiku, aku tau kau lebih dulu merasakan apa yang akan terjadi.
Aku sedikit heran ketika pagi itu kepalamu kau rebahkan dipangkuanku yang sibuk didepan komputer.
Kau sudah tau kau akan berpisah dengan salah satu orang tuamu, gak akan tidur bertiga lagi, gak akan mengalami : diceritain ibumu dengan elusan pelan tanganku di pantatmu agar kau tertidur.
Anakku
Begitu terasa hatimu yang bersih meluap pilu dengan teriakan dan rontaanmu, menolak meninggalkan bapakmu yang lemah melihat kau menangis.
Anakku
Aku gelap mata dan kesabaran selama 6 tahun ahirnya tumpah melihat kau dipaksa ikut dalam keegoisan ibumu.
Airnya kata-kata perpisahan itu ahirnya keluar dan membuatmu aneh
kau begitu pintar dan karena kepintaranmu itu kau cuma bengong memandang bapak.
tersirat di matamu yang bening bnyak makna yang kau ucapkan terbata-bata,
"bapak mau pergi kemana"
"Iki ikut dan diam sama bapak"
dan sesekali melihat penjual semangka minum dan berkata " kasian dia bapak kehausan"
tatapanku ahirnya tertuju ke celana, kaki dan sandalmu.
Kotor penuh debu.
Aku menangis melihat anakku yang tidak terurus. Anak sebayanya mandi 3 kali sehari oleh ibunya. tapi kau mungkin cm mandi sekali/ sehari. ataupun cuma dcuciin muka sama ibumu.
Apakah sekarang kau tau? ibu mengurusmu sj tdk becus, gmn mau mengurus suami dan keluargamu?
Anakku: Fahamilah keadaan ini, aku akan perjuangkan apa yang kau inginkan.
kutanya lagi " iki kalau gede mau jadi apa? diapun menjawab seperti biasa, iki mau jadi polisi.. amiiin
Anakku di eksploitasi...
Langganan:
Postingan (Atom)